eka_fajar
 

Aku tak sanggup menahan butiran- butiran bening itu mengalir halus dipipiku. Terus mengalir bagaikan aliran-aliran anak sungai, menetesi Handphone qu yang ada dalam genggamanku. Aku menangis bukan karena putus cinta, tapi aku menangis karena aku telah merasa kehilangan sahabat terbaikku, atau mungkin terlalu cepat bagiku untuk mengganggapnya sahabat. Aku terkjeut setelah pundakku ada yang menepuk
“sih, kamu kenapa?” Tanya sisi
“oh aku taka pa,aku ketoilet dulu” aku pergi tanpa melihat wajahnya
Terdengar suara sisi memanggilku tapi tak aku hiraukan.
Pulang sekolah ini aku berjalan gontai, panasnya matahari tiada seberapa menyengat kulitku, dibandingkan dengan kesedihan yang aku rasa. Kembali aku melihat Handphone ku berharap ada sms atau telfon dari seseorang, tapi sepertinya tak akan ada lag isi ms dari dia menghiasi kotak masukku, tak aka nada lagi suaranya yang mengjiburku. Kini dia, Rio, seorang sahabat pria yang aku punya telah berubah, berubah karena cinta.

Dulu dia selalu ada untukku, dia selalu menghiburku, dia selalu perhatian denganku, begitupun sebaliknya, kami telah mengikat janji persahabatan. Apapun masalahnya dia akan membantuku, dan apapun masalah dia aku juga akan membantunya, aku selalu ingin membuatnya tersenyum, tapi kini semua hanya tinggal kenangan. Rio telah berubah, setelah dia mulai jatuh cinta dengan Sisi sahabatku, dia mulai tak ada waktu untukku. Dia tak pernah menghubungi aku lagi, dia tak pernah ada lagi.

Dan ketika terakhir kali die menelfonku, satu ucapannya
“Jangan pernah ganggu aku dengan sisi”.
Aku tak menyangka Rio begitu tega berkata seperti itu, kepada sahabatnya sendiri. Apa yang ada didalam pikirannya, apa aku begitu menggangu, hingga dia berkata begitu, apa dia berpikir aku begitu picik. Untuk menggangu hubungan sahabat-sahabatku sendiri.

Apa selama ini dia hanya menganggapku sebagai sebuah boneka badut yang hidup. Kejam, benar benar kejam. Dan aku kini mulai berubah, tak ada lagi hasih yang dulu, yang suka menghibur orang, yang suka membuat kelucuandan yang ceria. Kini yang ada hanya hasih yang pendiam,hasih yang suka menyendiri, hasih yang rapuh. Dan disaat aku merasa terpuruk seperti sekarang tak ada orang yang bisa menghiburku.
“sih, kamu kenapa sih, kenapa kamu akhir-akhir ini, sering ngelamun” ujar dina mengagetkanku
“oh tidak apa kok din, aku hanya lagi gag mut mau ngpa-ngapain”
“cerita gih, sama aku, ada masalah apa”
“Din, gimana sih perasaanmu, kalau kamu dicampakkan sendiri oleh sahabatmu”
“rasanya pasti sakit banget, aku udah gag mau ketemu lagi sama sahabat seperti itu” kata dina
“oh” jawabku singkat. “aku ketiolet bentar ya” kataku

Tak sengaja aku bertemu sisi dan Rio
“hai sih, mau kemana” sapa sisi. “toilet” jawabku singkat tanpa menoleh. Tiba-tiba tanganku ada yang menarik
“kamu kenapa sih si, kenapa kamu berubah dingin begini” Tanya sisi, dan aku melihat Rio dia diam, entah apa arti diamnya
“aku gag papa, udah ya, ku mau ketoilet, aku udah kebelet” Tanya ku sambil melepas tangan sisi

Kali ini tak ada air mata lagi yang keluar, tak ada lagi. Air mataku rasanya sudah habis, dan untuk apa menangisi ini semua, toh kalau memang ini buat mereka bahagia, aku terima. Kini aku hanya ingin belajar menerima semuanya, menerima perlakuan mereka kepadaku. Saat butuh mereka datang, tapi saat mereka sedang senang-senang dengan mudahnya mereka meninggalkanku, batinku sebenarnya menjerit, tapi yah semuany udah terjadi. mUngkin ini jalan yang Tuhan telah berikan untuk ku. Mungkin mereka memang bukanlah sahabat yang aku cari, Tapi ada satu hal yang ku rasa hilang dariku, senyumku. Aku tak bisa kembalikan itu, setap lelucon yang aku dengar terasa sangat aneh bagiku.

Mungkin tak ada yang tau tentang apa yang aku rasakan saat ini. Kelak aku juga ingin bahagia, aku ingin bisa tersenyum kembali. Dan telah kuputuskan, untuk melupakan soal persahabatan ku dengan sisi dan Rio, tak ada gunanya aku memiliki sahabat seperti mereka, bahkan mera tak pantas disebut sahabat. Aku putuskan untuk pergi menjauh dari mereka, seperti yang Rio inginkan. Kini aku memang telah benar-benar menjadi boneka yang dingin dan diam. tapi suatu saat nanti aku bisa mengembalikan senyumku kembali.

Label: | edit post
Reaksi: 
0 Responses

Poskan Komentar

aytafornaraindream.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

_
Valentine's day help select