eka_fajar

Aku duduk termenung ditengah keramaian kota. Hanya memandangi kendaraan yang berlalu lalang, duduk di bawah kerlipan bintang. Hanya ditemani boneka mickyku yang sudah usang dan kotor karena debu dan tanah. Selama ini hanya boneka mickyku yang setia menemaniku di pinggiran jalan,dia rela usang dan kotor hanya demi aku. Malam ini, dia masih setia menemaniku di daerah kumuh. Aku masih memandangi langit, tampak bintang berkelipan meramaikan suasana malam yang cerah ini. Aku terisak mengingat kenangan indah saat bersama bunda.“ bunda, apakah kau lihat anakmu yang kumuh ini, rambut usang yang tak pernah kau sisir lagi. Kulit hitam yang tak pernah tersentuh lagi oleh perawatanmu. Aku yang sekarang bodoh karena tak pernah mendapat ilmu. Aku rindu bunda. Aku rindu saat bunda belai aku,saat bunda dongengkan aku sebelum tidur,saat bunda sayangi aku. Kini anakmu yang malang ini merana karena dera kehidupan yang kejam.”Bintang-bintang yang berkelip seketika redup. Mungkin mereka ikut merasakan pahitnya hidupku ini. Mungkin juga mereka ikut menangis menahan sesaknya hidup yang kejam ini. Sungguh aku rindu bunda. Angin berhembus pelan,menggoyangkan khorden kamarku. Malam ini terasa begitu indah. Bunda kembali mendongengkan seribu ceritanya sebelum aku tertidur. Belaian lembut tangannya menyentuh ujung rambutku. Kecupan manjanya menyentuh keningku. Aku masih mendengarnya penuh seksama.“ seorang putri yang cantik jelita kini tumbuh dewasa. Putri yang baik, putri yang santun dan dermawan . putri yang selalu sabar dengan musibah yang menimpanya. Putri yang tidak pernah sombong dengan kehidupannya yang sempurna.”“ andini ingin seperti putri dalam dongeng ini bunda.”“ andini ingin seperti putri dalam dongeng ini?”“ iya. Andini ingin hidup bahagia seperti putri dongeng ini. Putri yang tak pernah sombong.”“ asal kamu tahu sayang,” bunda membelai lembut rambutku” putri dalam dongeng ini adalah kamu sayang. Kelak kamu akan hidup bahagia.”Malam ini benar-benar indah saat bersamanya. Malam penuh kasih sayang. Akupun terlelap dalam pangkuan dan belaian lembutnya. Pagi ini cerah sekali. Secerah wajahku yang cantik. Aku menyiapkan segala perlengkapan sekolahku, bunda masih sibuk mengurus ayah. “ ah, ayah sudah besar kenapa harus bunda yang memakaikan dasi untuk ayah?’“ ye. Andini iri ya sama ayah?”“ engak ah.”Bunda hanya tersenyum tipis melihat aku yang ngotot mempertahankan prinsipku.“bunda, andin berangkat dulu yah” aku mencium tangan dan kening bunda. Ini ritualku sebelum berangkat sekolah.Ayahpun ikut mengecup kening bunda bahkan bundapun juga mencium tangan ayah.Aku tak tahu apa maksud itu. Mungkin karena aku masih terlalu kecil untuk mengerti semua urusan orang dewasa.Aku berlari meninggalkannya. Ayah selalu mengatntarkanku ke sekolah sesibuk apapun itu. Melihat sekeliling jalan, tampak anak-anak jalanan yang usang dan kotor berdiri dipinggirin jalan meminta-minta. Sungguh kasihan aku melihatnya.“ayah, andin tak ingin seperti mereka yang mengemis.”Ayah hanya tersenyum tipis mendengar aduanku. Dibelainya lembut kepalaku yang berbalut kerudung biru muda. “selagi ALLAH masih menyayangi andin itu tak akan terjadi sayang, dan selagi ayah sama bunda bersamamu.”Aku tersenyum lebar ke arahnya“berarti jika ALLAH tak lagi sayang andin, ALLAH akan menelantarkan andin begitu saja yah?”Ayah kembali tersenyum, menggeleng.“ ALLAH MAHA Pengasih andin, ALLAH tak mungkin menyengsarakan hambaNYA.”Aku menganguk, itu tanda aku memahami semuanya.“ belajar yang rajin sayang. Nanti ayah jemput setelah ayah selesai kerja.” Di kecupnya keningku penuh kasih sayang.Aku lambaikan tanganku kearahnya. Aku benar-benar menyayangi mereka. Siang itu perasaanku kacau, entah mengapa butiran bening ini tiba-tiba membasahi pipiku. Benar-benar peristiwa yang tidak pernah aku inginkan. Bunda jatuh sakit dan sekarang koma.Aku kembali terisak melihat tubuh bunda yang terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit. Aku tak ingin melihatnya sakit. Wajahnya pucat sekali, dan baru kali ini aku merasa sedih karena bunda. Aku sayang bunda dan aku ingin selalu menemani bunda disini tak ingin meninggalkannya sendiri dalam kesakitan dan kesedihannya. Karena selama ini bunda tak pernah meninggalkanku bunda selalu menyayangiku. “bunda, andin rindu bunda. Andin kangen belaian dan kecupan kasih sayang bunda. Andin kangen dongeng bunda yang setiap malam bunda lakukan sebelum andin tidur. Bunda ayolah bangun, andin tidak bisa melihat bunda seperti ini terus.”Aku kembali terisak. Ayah menenagkan aku, dan mengajakku pulang ke rumah.“ andin sayang, kita pulang yuk. Kan dari kemarin andin sudah jagain bunda jadi sekarang andin istirahat saja di rumah, biar andin tidak sakit.”Namun aku menggelengkan kepala. Tak ingin jauh dari bunda. Ayah tetap membujukku agar aku istirahat di rumah.“andin sayang, andin berdo’a saja sama ALLAH, meminta kesembuhan untuk bunda. Andin sayang bundakan??”Aku hanya mengangguk pelan, kali ini aku dengar perkataan ayah. Menuruti untuk pulang kerumah.“ ayah yang akan jaga bunda di sini,nanti kalau bunda sudah sadar ayah kasih tahu andin.Sekarang andin pulang yah. Jangan lupa makan sama istirahat yang cukup.Aku hanya mengangguk. Melangkah meninggalkan bunda. Hanya bisa bicara dengan batinku sendiri,terasa sesak. Sesampai dirumah aku rebahkan badanku diatas ranjang yang penuh kenagan dengan bunda.Hari-hariku semakin muram dengan kesedihan. Sudah hampir satu bulan bunda tak kunjung sadar. Aku rutin menemaninya di rumah sakit setelah pulang sekolah. Ayah juga mengambil cuti untuk selalu menjaga bunda. Aku benar-benar rindu dengannya. Kapan aku bisa bersua denganngya lagi?.Bahkan ketika umurku menginjak Sembilan tahun, bunda masih tak sadarkan diri. Seharusnya waktu itu aku bahagia merayakannya dengan ayah dan bunda, tetapi justru sebaliknya. Ayah hanya memberikanku sebuah buku yang menarik. pagi itu aku hanya bisa menatapnya kelu. Bunda tak bisa apa-apa sekarang. Hanya terdiam mugkin menahan sakit yang sangat sakit untuk dirasakan. “bunda andin benar-benar rindu bunda. Kapan bunda sembuh? Padahal setiap kali andin berdo’a untuk kesembuhan bunda pada ALLAH.” Aku kembali terisak, ayah menatapku dengan tatapan kosong mungkin sedih juga melihat aku yang selalu berharap bunda sembuh.Tiba-tiba, jari bunda bergerak pelan, aku terdiam melihat keajaiban itu.“ayah, lihat jari bunda bergerak, apakah itu tandanya bunda sadarkan diri?”Ayah bergegas memanggil dokter. Ini benar-benar keajaiban untuk bunda.
Label: | edit post
Reaksi: 
0 Responses

Poskan Komentar

aytafornaraindream.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

_
Valentine's day help select